Strategi Bisnis

Strategi Bisnis ala Howard Schultz Ini Jadikan Starbucks Sebagai Kedai Kopi No 1 di Dunia!

Bisnis Anda sepi pelanggan? Sudah melakukan banyak strategi, tapi hasilnya masih belum maksimal? Jika bisnis Anda masih seperti itu, yuk simak cara Howard Schultz menerapkan strategi bisnis Starbucks hingga menjadi kedai kopi no 1 di dunia!

Awal Karir

Schultz lulus dari Northern Michigan University dengan Gelar Bachelor of Science di bidang ilmu komunikasi. Schultz kemudian memulai karirnya di Xerox Corporation dengan posisi sales representatif.

Setelah bekerja beberapa tahun di perusahaan tersebut, pria kelahiran 19 Juli 1953 ini memutuskan pindah ke perusahaan asal Swedia, Hammarplast dan menempati jabatan sebagai Direktur Penjualan untuk wilayah pemasaran di Amerika Serikat.

Perusahaan ini berfokus menjual peralatan pembuatan kopi, dan dari sini Ia mulai tertarik pada dunia kopi.

Kagum dengan Kopi

Sebagai direktur penjualan, Schultz sering menemui pelanggan yang membeli peralatan kopi. Sekitar tahun 1980-an, Ia tertarik terhadap salah satu pelanggan yang sering memesan plastik kerucut penyaring kopi.

Ia mengunjungi kedai kopi pelanggannya tersebut yang bernama Starbucks. Pada saat itu, Ia merasa kagum terhadap pengetahun pendiri awal Starbucks, yakni Jerry Baldwin, Gordon Bowker dan Zev Siegl karena pengetahuan kopi yang mereka miliki.

Baca juga:

Berkarir di Starbucks

Karena Ia sangat yakin akan masa depan Starbucks, Ia melamar untuk bekerja disana sebagai Direktur Pemasaran, walau gaji yang Ia terima lebih kecil dari perusahaan sebelumnya.

Ia juga mempunyai ide untuk mengubah konsep Starbucks menjadi bentuk cafe, dimana para pelanggan bisa bersantai sembari menikmati kopi. Namun, ide Schultz ditolak oleh pendiri Starbucks. Schultz kemudian memutuskan untuk keluar dari Starbucks dan mendirikan kedai kopi pertamanya, Il Giornale

2 tahun setelah Ia mendirikan Il Giornale, manajemen Starbucks memutuskan menjual kepemilikan Starbucks kepada Schultz seharga $3,8 juta. Saat itu juga Ia mengganti nama Il Giornale menjadi Starbucks.

Sejak Schultz memegang kendali penuh di Starbucks, kedai kopi ini mengalami peningkatan pesat. Starbucks berhasil berkespansi ke sejumlah negara, khususnya di Indonesia.

Saat ini, Starbucks memiliki 21,536 cabang yang tersebar di 64 negara. Tak hanya itu, Starbucks juga menyediakan berbagai menu selain kopi, seperti jus dan juga kue.

Strategi Bisnis Starbucks

Sebagai kedai kopi yang menawarkan konsep dine in, Starbucks berusaha menawarkan kesan yang berbeda terhadap setiap pelanggan yang datang, disamping rasa kopi yang nikmat.

Kesan kenyamanan yang dirasakan pelanggan serta rasa mewah yang diterima dari logo yang ada di setiap gelas merupakan strategi bisnis emotional benefit yang ditawarkan oleh Starbucks.

Global Awards Winning Business Coach, Coach Yohanes G. Pauly berpendapat bahwa untuk bisa menarik calon customer agar mau membeli, pemilik bisnis harus mengandalkan emotional benefit.

Starbucks berhasil menciptakan emotional benefit ini, dimana para customer yang membeli produk Starbucks merasakan kebanggaan tersendiri terhadap brand ini, dan tak jarang mengabadikannya ke sosial media.

Selain menciptakan emotional benefit, Starbucks juga menerapkan strategi bisnis lainnya untuk meningkatkan penjualan, salah satunya melalui up-sell.

Strategi Bisnis

Didalam bisnis F&B seperti Starbucks, strategi up-sell digunakan ketika pelanggan ingin membayar di kasir, dan menambah jumlah pembelian melalui penawaran yang ditawarkan.

Contohnya, Starbucks sering menawarkan ukuran produk yang lebih besar ketika pelanggan hendak membayar, dimana harga tambahan yang dipatok tidak terlalu besar.

Bagaimana, cukup praktis bukan strategi bisnis yang dilakukan Starbucks? Apakah Anda siap untuk menerapkannya di bisnis Anda?

Similar Posts

Leave a Reply