bisnis startup

Bisnis Startup Lemonilo Ini Dibanjiri Banyak Investor Asing Loh! Intip Caranya Yuk!

Ingin mendirikan bisnis startup? Tapi tidak tahu bagaimana caranya? Yuk belajar dari Shinta Nurfauzia dalam membangun bisnis startup Lemonilo!

Berkarir Sebagai Pengacara

Awalnya, Shinta memiliki background sarjana hukum dan tidak pernah belajar di bidang bisnis. Perempuan kelahiran 11 September 1985 ini bekerja sebagai pengacara dan konsultan hukum selama 4-5 tahun setelah Ia lulus dari gelar sarjana-nya.

Ingin mengejar ilmu lebih tinggi, Shinta melanjutkan gelar magisternya di Harvard Law School di Cambridge dengan konsentrasi hukum bisnis. .

Selama menempuh studi disana, Ia bertemu dan belajar banyak tentang bisnis dengan Johannes Ardiant. Berbekal ilmu yang dimiliki, Shinta menggandeng Johannes untuk mendirikan bisnis startup Lemonilo pada tahun 2015.

Baca juga:

Healthy Food Sebagai Fokus Utama Bisnis

Shinta memberikan sentuhan yang berbeda pada bisnis Lemonilo dari bisnis startup lainnya, yaitu berfokus pada healthy food.

Mempunyai misi untuk mengubah gaya hidup masyarakat Indonesia menjadi lebih sehat, Shinta juga menempatkan tim nutrisi pada produk Lemonilo. Hal ini bertujuan untuk menjaga kandungan produk tetap aman dari bahan kimia yang merusak tubuh manusia.

Shinta juga melihat kecenderungan masyarakat yang memiliki anggapan bahwa hidup sehat itu mahal. Oleh sebab itu, Ia menerapkan pricing strategy, dimana harga produk Lemonilo cukup terjangkau bagi masyarakat awam.

Saat ini, Lemonilo berhasil memperoleh dana investasi dari pemodal ventura seperti Alpha JWC Ventures, Unifam Capital, Sequoia Capital India, dan Sofina Ventures SA.

Bagaimana Cara Memulai Bisnis Startup?

Jika Shinta Nurfauzia berhasil mendirikan bisnis startupnya, maka Anda pun juga bisa melakukannya.

Untuk itu, Anda bisa menerapkan strategi discriminator oleh Global Awards Winning Business Coach, Coach Yohanes G. Pauly. Discriminator adalah sebuah pembeda, ciri khas, dan keunikan yang hanya dimiliki oleh bisnis Anda dan tidak dimiliki oleh bisnis lain yang bukan dari segi harga.

“Kenapa harus punya discriminator? Karena kalau produk atau jasa Anda tidak punya perbedaan unik yang membedakan dengan kompetitor, ujung-ujungnya yang membedakan hanya lah harga saja. Akibatnya Anda terjebak dalam perang harga yang tidak berkehabisan.” ucap Coach Yohanes G. Pauly.

bisnis startup

Discriminator yang diterapkan oleh Shinta Nurfauzia dapat dilihat dari konsep produk di bisnisnya, yaitu healthy food.

Contohnya, mie instan yang biasanya mendapat persepi sebagai makanan yang tidak menyehatkan, Lemonilo membuat discriminator dengan menciptakan mie instan yang menyehatkan untuk dimakan setiap hari.

Selain itu, produk Lemonilo yang diciptakan Shinta juga memberikan emotional benefit, bahwa dengan mengkonsumsi Lemonilo, masyarakat tetap bisa hidup sehat dan makan enak.

Yuk terapkan discriminator pada produk di bisnis startup Anda!

Similar Posts

Leave a Reply